Ingin Usaha Konveksi Jilbab Syar’i?, Fahami Hal Ini!

Konveksi Jilbab – Dalam menjalankan setiap aktivitas seorang muslim wajib terikat dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Dzat yang maha menciptakan dan mengatur kehidupan. Dengan ketundukan kepada aturan dari Sang Pencipta, maka akan memberikan kebaikan dan ketenangan bagi orang tersebut karena keyakinan akan pahala dan ganjaran kebaikan. Termasuk pula dalam melakukan usaha atau bisnis. Ternyata urusan bisnis tidak hanya soal untung atau rugi. Lebih dari itu bisnis bisa melambungkan seseorang kepada surga tertinggi atau bahkan malah bisa menghempaskan seseorang kedalam lembah neraka terdalam.

Ilustrasi Judul Artikel "Bisnis Jilbab Syar'i"
Ilustrasi Judul Artikel “Bisnis Jilbab Syar’i” (sumber: www.wajibbaca.com)

Salah satu bisnis atau usaha yang menjadi bisa menjadi tonggak kebaikan sekaligus keburukan adalah usaha konveksi pakaian. Kenapa demikian?, hal ini karena bisnis konveksi pakaian inilah yang menjadi fasilitator untuk membuat berbagai jenis dan model pakaian yang digunakan oleh setiap orang bahkan setiap hari. Kita bisa membayangkan andai seluruh usaha konveksi pakaian sepakat untuk membuat pakaian yang membuka aurat.

Akhirnya kita tidak memiliki pilihan yang lain, lalu kita akhirnya terpaksa memilih pakaian tersebut meskipun dengan berat hati. Tentunya analogi ini sedikit bertentangan dengan teori permintaan pasar, namun itulah bagaimana peran usaha konveksi pakaian dalam mewarnai masyarakat.

Nah kira-kira begitulah mindset yang perlu kita tanamkan ketika ingin memulai atau mengembangkan bisnis konveksi pakaian. Sudah tergambar ya sobat Diamond Konveksi arah dari artikel ini. Apalagi jika sobat ingin lebih spesifik berbisnis konveksi baju wanita. Maka hal ini wajib untuk difahami agar bisnis kita mampu melejitkan kita ke syurga yang paling tinggi. Berikut beberapa hal yang penting untuk difahami bagi sobat yang ingin berbisnis konveksi jilbab syar’i:

1. Ilmu Sebelum Amal

Dalam menjalankan setiap peran kita dituntut untuk mengetahui ilmunya. Sehingga dalam mengerjakan tidak terkesan serampangan atau tidak profesional. Sebagai penguat ada hadist yang menyampaikan bahwa Allah menyukai orang-orang yang melakukan pekerjaannya secara itqan atau bahasa sederhananya adalah profesional. Profesionalisme tentu menuntut wawasan, pengalaman yang luas, keterampilan yang terus diasah dan kesungguhan, yang dengannya hasil pekerjaan seseorang akan maksimal.

Ilustrasi Ilmu sebelum amal
Ilustrasi Ilmu sebelum amal (sumber: miro.medium.com)

Demikian pula dalam berbisnis termasuk usaha konveksi jilbab syar’i. Tentunya menuntut pemahaman yang mendalam tentang batasan aurat laki-laki dan perempuan. Mengkaji secara mendalam tafsir ayat al-Qur’an yang membahas terkait pakaian wanita. Kemudian menuangkan pemahaman yang dimiliki dalam sebuah karya jilbab syar’i. Dengan orientasi kebaikan pahala dari setiap wanita yang mengenakan produk jilbab yang dibuatnya.

2. Fahami Istilah Jilbab

Masyarakat seringkali salah faham dengan istilah jilbab. Umumnya mereka memahami bahwa jilbab adalah kerudung yang menutupi kepala atau rambut. Adapun dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 59 disebutkan istilah “jilbab” dalam bentuk jamak yakni “jalaabbib” . Firman Allah SWT (artinya),”Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin,’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Arab : yudniina ‘alaihinna min jalaabibihinna).

Ilustrasi pakaian jilbab syar'i
Ilustrasi pakaian jilbab syar’i (sumber: www.wajibbaca.com)

Menafsirkan ayat ini, Imam Al Qurthubi berkata,”Kata jalaabiib adalah bentuk jamak dari jilbab, yaitu baju yang lebih besar ukurannya daripada kerudung (akbar min al khimar). Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa jilbab artinya adalah ar ridaa` (pakaian sejenis jubah/gamis). Ada yang berpendapat jilbab adalah al qinaa’ (kudung kepala wanita atau cadar). Pendapat yang sahih, jilbab itu adalah baju yang menutupi seluruh tubuh (al tsaub alladzy yasturu jamii’ al badan).” (Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, 14/107).

3. Jilab Bukan Kerudung

Dari keterangan Imam Al Qurthubi di atas, jelaslah bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai arti “jilbab”. Memang terdapat satu qaul (pendapat) yang mengatakan “jilbab” artinya adalah “al qinaa’ ” yang dapat diindonesiakan sebagai “kudung kepala wanita” atau juga dapat diartikan sebagai “cadar” (sesuatu yang menutupi wajah, maa yasturu bihi al wajhu). (A.W. Munawwir, Kamus Al Munawwir, hlm. 1163; Mu’jam Lughah Al Fuqaha`, hlm. 283). Mungkin qaul inilah yang masyhur di Indonesia, sehingga kemudian jilbab lebih populer dimaknai sebagai kerudung.

Ilustrasi pakaian lengkap wanita ketika keluar rumah
Ilustrasi pakaian lengkap wanita ketika keluar rumah (sumber: www.wajibbaca.com)

Namun qaul tersebut dianggap lemah oleh Imam Al Qurthubi, sehingga beliau menguatkan pendapat bahwa jilbab itu bukanlah kerudung atau cadar, melainkan baju yang menutupi seluruh tubuh (al tsaub alladzy yasturu jamii’ al badan).” (Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, 14/107). Jadi kesimpulannya adalah Jilbab adalah baju kurung yang menutupi perhiasan internal dan pakaian dalaman.

4. Jangan Sampai Tabarruj

Wanita jika keluar rumah atau dikehidupan umum wajib mengenakan pakaian syar’i yang mencakup, jilbab, menutup aurat dan tidak tabarruj. Adapun terkait dengan menutup aurot maka aurot perempuan adalah seluruh bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Setelah itu semua dilakukan ternyata penting juga untuk memahami makna tabarruj. sehingga dalam mendisain pakaian muslimah bisa terhindar dari kategori tabarruj ini.

Adapun pengertian tabarruj secara bahasa adalah wanita menampakkan perhiasannya kepada laki-laki untuk tujuan agar para laki-laki memalingkan pandangannya ke arah wanita. Dari pemahaman ini kita bisa menyimpulkan bahwa ketika seorang perempuan sudah menutup aurot dan mengenakan jilbab, namun dari sisi jilbabnya glamour dengan berbagai hiasan dan renda-rendanya yang bisa mengalihkan pandangan laki-laki ke arahnya maka itu dikatakan sebagai tabarruj pada pakaian. Hal inilah yang perlu menjadi perhatian bagi sobat yang memproduksi jilbab wanita syar’i.

Demikianlah uraian singkat terkhusus bagi sobat Diamond Konveksi yang akan atau sedang menggeluti bisnis konveksi jilbab syar’i. Ingat, selain untung yang besar kita berharap keberkahan harta dari bisnis yang kita jalani.

Adapun jika ingin memulai bisnis konveksi rumahan kami juga sudah menulis artikel yang bisa menjadi referensi. Semoga bermanfaat, sampai bertemu diartikel menarik berikutnya.

Tinggalkan komentar